Pemanfaatan Ban Motor Bekas untuk Plengsengan di Dusun Gilih: Inovasi Ramah Lingkungan yang dikomandoi Kasun Zainul Arifin

Jeruk Soksok — Di tengah ancaman erosi yang terus menggerus tebing-tebing Dusun Gilih, muncul sebuah gerakan sederhana namun penuh harapan. Gerakan itu dipimpin oleh Kepala Dusun Gilih, Zainul Arifin, yang mengajak warga bangkit melalui inovasi yang tak biasa: menyelamatkan lingkungan dengan memanfaatkan ban motor bekas sebagai plengsengan.

Bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi sebuah kisah tentang bagaimana masyarakat desa bersatu menghadapi tantangan alam. Selama ini, ban bekas sering dianggap sampah yang menyisakan masalah bertahun-tahun. Namun di tangan warga Gilih, benda yang terbuang itu berubah menjadi perisai penahan longsor—simbol ketangguhan dan kreativitas masyarakat.

Setiap ban diangkat dengan keringat, disusun dengan cermat, dan dipadukan dengan rasa kebersamaan yang kuat. Suara cangkul yang menghantam tanah, teriakan semangat antarwarga, serta komando tegas namun penuh empati dari Kasun Zainul Arifin menjadi saksi bahwa gotong royong masih hidup dengan sangat kuat.

“Kami tidak bisa hanya menunggu bantuan datang. Dengan apa yang ada, kami bergerak. Ban bekas ini mungkin dianggap sampah oleh banyak orang, tapi bagi kami ia adalah penyelamat,” ujar Zainul Arifin dengan penuh haru.

Kini, plengsengan dari ban bekas berdiri kokoh di tepi-tepi rawan longsor, seakan menjadi tembok harapan bagi masyarakat Dusun Gilih. Lebih dari sekadar pembangunan, ini adalah bukti bahwa kreativitas dan kebersamaan mampu mengubah ancaman menjadi kekuatan.

Di balik tumpukan ban itu, tersimpan cerita perjuangan, persatuan, dan cinta warga terhadap tanah kelahirannya. Kisah yang mungkin sederhana, namun menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikan.

Share Berita Ini